Hindari Hukuman Fisik pada Penderita Autis

Jika anak Anda menunjukkan gejala sulit berkomunikasi, tidak menunjukkan kontak mata saat diajak bicara, atau cenderung menarik diri dari lingkungan, maka berhati-hatilah sebab itu merupakan gejala Autis. Demikian diungkapkan Teguh Jaya Putra, Konsultan Pendidikan Anak dengan Kebutuhan Khusus saat menjadi narasumber Solusi Sehat di radio JJFM, Rabu (26/9). 

Autis merupakan gangguan perilaku anak yang hingga saat ini belum ditemukan penyebab dan obatnya. Gejala autis biasanya terlihat ketika anak berusia diatas setahun. “Sayangnya, orangtua sering mengabaikan gejala tersebut. Mereka menganggap itu adalah bagian dari kenakalan anak-anak,” sesal Teguh. 

Padahal, menurutnya, jika gejala itu sudah terdeteksi sejak dini, si anak bisa segera mendapatkan terapi. Ada 5 macam terapi yang telah teruji dan direkomendasikan, yaitu terapi perilaku, terapi bicara, terapi okupasi, terapi sensori pancaindera, dan terapi biomedical. Diantara kelima terapi tersebut, terapi perilaku merupakan terapi dasar yang harus dilakukan untuk membantu tumbuh kembang anak. 

“Tujuannya untuk memaksimalkan keberhasilan dan meminimalkan kegagalan,” tambah pendiri Youth Shine Academic itu. Misal, lanjutnya, ada anak yang kalau meminta sesuatu selalu teriak-teriak atau menangis. Dengan memberikan terapi perilaku berarti mengarahkan anak agar meminta sesuatu dengan cara benar, seperti menunjuk atau bicara pada orangtua tanpa harus teriak atau menangis. 

Lalu, bagaimana metode terapi perilaku yang dapat dilakukan orangtua?Pada dasarnya, setiap kali orangtua memberi perintah, ada 4 respon yang akan diberikan anak, yaitu respon benar atau mengikuti perintah, respon salah atau melakukan tapi tidak sesuai perintah, tidak memberikan respon, dan respon setengah atau mengikuti perintah tapi tidak sepenuhnya. Jika responnya benar, berilah pujian pada si anak. Jika responnya salah, sebaiknya orangtua bilang ‘tidak’. Begitu juga kalau tidak ada respon, jangan lupa untuk bilang ‘tidak’ pada si anak. Tapi, jika responnya setengah, maka ulangi perintah Anda agar si anak mengulangi responnya. “Untuk menangani anak autis, jangan sekali-kali menghukumnya dengan hukuman fisik. Sebab itu justru akan membuat keadaan makin tidak sesuai dengan yang diinginkan,” sarannya. 

Ada beberapa kemampuan yang harus dikuasai anak autis, yaitu duduk mandiri di kursi, melakukan kontak mata, tangan dilipat, meniru berbagai macam gerakan, mengidentifikasi benda dan gambar, menyebut nama benda dan gambar, serta membina diri sendiri. 

Meski orangtua sudah memberikan terapi, namun ada baiknya melibatkan peran seorang terapis. Idealnya, terapi perilaku diberikan pada anak usia 2-3 tahun selama 2 tahun berturut-turut. Metode terapi diberikan selama 40 jam dalam seminggu atau 7-8 jam perhari. “Diharapkan, terapi ini bisa membantu anak mengenal 500 keahlian dasar yang berguna di masyarakat dan sekolah umum nantinya,” tegas Teguh. 

Diakui bahwa tidak semua anak autis mengalami gangguan terhadap kecerdasan otak. Ada anak autis yang sangat cerdas bahkan melebihi anak normal pada umumnya. Bahkan tidak sedikit pula penderita autis yang memiliki kemampuan melihat makhluk asing. “Penderita autis itu memiliki tingkat sensitivitas yang tinggi, sehingga mereka lebih peka. Itupun tergantung berat ringannya gangguan yang dialami,” ujarnya mengakhiri perbincangan. (noe)   

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: