UU Sudah Ada, namun KDRT Tetap Merajalela

Meski telah diatur dalam Undang-undang, namun jumlah korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terus meningkat. Pada tahun 1998 tercatat ada 60 kasus, tahun 1999 ada 80 kasus, sedangkan hingga Nopember 2006 tercatat 90 kasus perkosaan. Dari catatan tersebut, kasus terbanyak terjadi di Surabaya. Ada 21 kasus perkosaan di Surabaya, disusul kemudian Malang yang memiliki 15 kasus perkosaan. 

Penemuan ini cukup mengkhawatirkan karena sejauh ini ada dua aturan yang mengatur KDRT, yaitu UU No. 23 / 2005 tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga, dan untuk Jawa Timur diperkuat dengan Perda No. 9 / 2005 tentang Penyelenggaraan Perlindungan Anak dan Perempuan dari Kekerasan. 

Beberapa LSM, seperti KPPD menganggap bahwa kelemahan penerapan hukum dalam masyarakat sebagai salah satu penyebab maraknya KDRT. Selama ini, sanksi yang ditetapkan dalam aturan tersebut sudah memadai, namun sayangnya, semua itu belum dapat diterapkan dalam masyarakat. Bahkan tidak jarang, ada pelaku KDRT yang terbebas dari jeratan hukum. 

Lain halnya dengan Rovi Munawar. Anggota DPRD Jawa Timur ini menganggap tingginya angka KDRT disebabkan oleh kesalahan persepsi dalam masyarakat. Selama ini masyarakat memandang bahwa derajat wanita berada di bawah laki-laki. Akibatnya, wanita selalu menjadi korban laki-laki.  

Itu sebabnya, diharapkan ada tindakan tegas dari aparat hukum untuk segera menegakkan aturan yang ada. Jika tidak, dikhawatirkan jumlah korban KDRT akan meningkat dan merembet, tidak hanya terhadap wanita namun juga anak-anak. (noe) 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: