Kawasan Bodri, Potensi Wisata yang Terpendam

Berbekal rasa cinta terhadap barang-barang antik, Ade Supriadi lantas mengawali karirnya dengan berjualan barang antik sejak 1970. Semula, pria asal Bandung ini hanya menjual barang antik sesuai seleranya. Namun, seiring perjalanan waktu, permintaan dari pelanggan makin bertambah, terutama untuk barang sejenis lampu gantung, jam, maupun gramophone. 

Jadilah kini kiosnya yang hanya berukuran 3×4 meter banyak dipenuhi berbagai barang antik. Diantara barang-barang yang rata-rata berusia satu abad itu, keberadaan lampu gantung tampak paling menonjol. Hampir di semua sudut ruangan dipenuhi dengan lampu buatan Eropa itu. Salah satunya lampu gantung putih seharga Rp 14 juta itu merupakan salah satu lampu yang paling banyak dicari. Selain bentuknya yang unik, lampu tersebut juga hemat energi. “Untuk menyalakan tidak perlu bantuan listrik, tapi cukup dengan menarik kedua bandulnya,” kata Ade dalam talkshow Panduan Konsumen di radio JJFM, Rabu (24/10). 

Ada juga gramaphone dari Swedia yang berusia sekitar 80 tahun. Bentuknya juga masih asli dan terawat dengan baik. Tak heran jika banyak wisatawan asing yang berburu gramophone di kios milik Ade. “Biasanya yang suka cari gramophone disini itu turis asing. Mesinnya masih dan bagus dan masih bisa digunakan, tapi biasanya gramophone ini hanya sebagai pajangan,” tambahnya. 

Selain itu, ada juga jam dinding yang menempel di salah satu dinding ruangan. Namanya jam kikuk. Sesuai dengan namanya, di bagian atas jam ada patung seekor anak ayam yang berkicau setiap jam sebagai penanda waktu. Cara beroperasi jam kikuk hampir sama dengan lampu gantung, yaitu dengan menarik bandul yang menggantung pada jam tersebut. “Ada yang ditarik setiap 24 jam, ada juga yang ditarik seminggu. Jadi, pemiliknya harus rajin. Kalau tidak ditarik, jam-nya tidak akan nyala,” kata Ade. 

Diakui bahwa keberadaan barang antik seringkali menjadi incaran para kolektor. Bahkan tidak sedikit yang rela mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkan barang yang diinginkan. Kesempatan inilah yang banyak dimanfaatkan orang yang tidak bertanggungjawab dengan menjual barang antik yang palsu. Ade lantas membagikan tips untuk mendapatkan barang antik yang asli. “Barang yang tiruan biasanya masih baru, bentuknya lebih kasar, terlihat mengkilap, dan tidak dilengkapi dengan katalog. Tapi kalau barang yang asli usianya lebih tua, lebih halus, tidak terlalu mengkilap, dan dilengkapi dengan katalog,” saran Ade. Selain itu, harga jual barang asli biasanya lebih murah dibandingkan yang asli. 

Meski kiosnya dipenuhi barang antik dengan harga jual cukup tinggi, ternyata tidak membuat Ade berpuas diri. Sebaliknya, Ade justru ketakutan kalau sewaktu-waktu Pemkot menggusur kiosnya. Bisa Jadi, sebab hingga saat ini dia belum memiliki kios tetap. “Dulu, saya pernah berjaualan di kawasan Panjang Jiwo, lalu pindah ke Blauran dan sekarang disini,” ungkap pria yang sudah 5 tahun menempati kios di Jl. Bodri, Surabaya. 

Ade berharap agar pemerintah memberikan tempat yang layak bagi para pedagang barang antik. Sebab, secara tidak langsung, keberadaan pedagang barang antik seperti dirinya dapat menarik minat wisatawan. Jika dikelola dengan baik, maka Surabaya akan memiliki tambahan obyek wisata seni. (noe)     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: