Pedagang Susu Kedelai Bertahan di Tengah Krisis Kedelai

Penjual susu kedelai dibingungkan dengan kenaikan harga kedelai. Ibarat buah simalakama, jika harus menaikkan harga susu, mereka akan kehilangan pelanggan, namun kalau tetap mempertahankan harga, mereka akan terancam gulung tikar.

“Hidup sekarang ini serba susah. Harga barang naik terus, tapi pendapatan malah berkurang,” ratap Mukhtar, pedagang susu kedelai keliling di kawasan Dharmawangsa, Surabaya kepada reporter JJFM, Rabu (16/1).

Bisa jadi, sebab sejak kenaikan harga kedelai, usaha yang dirintis sejak tahun 1991 itu mengalami penurunan. Kalau biasanya, dia dapat membeli 2-3 kilogram kedelai setiap hari, kini hanya mampu membeli 1 kilogram kedelai setiap harinya. Itupun dia harus menambah modalnya sebesar Rp 10.000 setiap hari.

“Mampunya hanya beli 1 kilogram, mau bagaimana lagi. Itu saja belum termasuk untuk beli gula dan kebutuhan lain,” kata Mukhtar yang omset penjualannya sehari mencapai Rp 80.000. Meski produksinya dan pendapatannya berkurang, namun hingga saat ini dia belum berani menaikkan harga. Untuk satu gelas susu kedelai masih dijual dengan harga Rp 1.000. “Nanti kalau harganya dinaikkan, bisa-bisa tambah rugi,” tambahnya. (noe)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: