Kluster Jadi Solusi Atasi Kemiskinan

 

Pengklusteran diyakini menjadi solusi untuk mengatasi tingginya angka kemiskinan dan pengangguran di Jatim. Pengklusteran agrobisnis, contohnya, dapat memberdayakan petani.

“Agrobisnis mampu menyerap banyak tenaga kerja, terutama sektor industri kecil yang memang padat karya,” kata Khofifah Indar Parawansa, salah satu calon gubernur Jatim.

Tidak sekadar melempar ide, Khofifah mengaku telah memulai langkah praktis. ”Kami sedang mempersiapkan beberapa kluster sektor agrobisnis. Mana saja daerah pertanian, mana yang potensial untuk komoditas, peternakan, perikanan, perindustrian, semua sedang didata. Bahkan, pendataan sektor agrobisnis sudah tahap finalisasi.” Pengklusteran agrobisnis serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) secara tepat diharapkan akan mengoptimalkan pengembangan industri kecil Jatim .(lee)

Advertisements

Sinergi Solid, Ekonomi Stabil

Sinergi antara pemerintah sebagai badan eksekutif, perwakilan rakyat sebagai pihak legislatif, dan pelaku ekonomi sangat menentukan tercapainya stabilitas ekonomi. Sinergi yang solid akan mendorong daya saing yang kukuh dalam menghadapi pasar bebas. Komisaris Utama PT Telkom Tanri Abeng mengatakan hal tersebut seusai menjadi pembicara dalam seminar “Designing World-Class Business in Supply Chain” yang diadakan program Magister Manajemen Fakultas Ekonomi Unair di Hotel Shangri-La Surabaya, Rabu (26/3).

Dijabarkan Tanri, dunia usaha berperan sebagai pencipta lapangan kerja, pemerintah sebagai perumus regulasi, dan legislatif sebagai pihak yang mengesahkan regulasi. Kerjasama yang harmonis di antara ketiganya akan membangun ketangguhan daya saing dunia usaha dan menghasilkan kekuatan ekonomi nasional yang kokoh.

“Hal lain yang tak kalah penting, pelaku ekonomi di dalam negeri, baik BUMN maupun swasta, harus mengembangkan kemampuan dan kapasitasnya supaya mampu berkompetisi secara global,” katanya. (lee)

UKM Serap 90 Persen Tenaga Kerja

Kontribusi usaha kecil dan menengah (UKM) terhadap perekonomian Jatim hampir mencapai 60 persen. Hal itu, menurut Wakil Ketua Umum Kadin Jatim Bidang UKM Shahputra, membuktikan bahwa keberadaan pelaku UKM harus diperhitungkan. Apalagi, pelaku UKM turut menciptakan lapangan pekerjaan yang otomatis dapat mengurangi pengangguran.

Ia memperkirakan selama tahun ini sektor UKM akan bertumbuh 15-20 persen. “Sekarang tinggal bagaimana pemerintah sebagai mitra kerja dan pemberi regulasi dapat lebih optimal dalam menangani sektor UKM,” tukasnya.

Pada kesempatan berbeda, Ketua Kadin Jatim Erlangga Satriagung mengungkapkan, pada 2007 UKM Jatim menyerap 90 persen tenaga kerja di sektor perdagangan. Di sektor yang sama usaha skala besar ternyata hanya menyerap sepuluh persen tenaga kerja.

Tahun ini diprediksi penyerapan tenaga kerja mencapai 8,9-9 juta orang. Sekitar 96 persen di antaranya diperkirakan terserap di sektor UKM,” ujarnya. Erlangga mengamati potensi UKM masih sangat besar. Lebih-lebih perdagangan antarpulau dan ekspor yang selama ini memberikan kontribusi utama terus menunjukkan peningkatan. (lee)

Pedagang Tak Satu Suara tentang TPS

Para pedagang Pasar Turi mendesak Pemkot Surabaya segera mengoperasikan Tempat Penampungan Sementara (TPS) Pasar Turi. Dengan begitu mereka tak harus menganggur lebih lama lagi. “Proses pembangunan TPS lambat. Kalau TPS tak segera selesai, pedagang tidak dapat berdagang lagi. Padahal, kebutuhan hidup terus naik,” kata Abdul Muin, Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Baru Bersatu kepada reporter radio JJFM.

Ia berharap, walaupun proses pembangunan belum tuntas, pemkot segera mengoperasikan TPS. “Toh bangunan yang ada sekarang sudah bisa ditempati. Pembangunan bisa dilakukan sambil jalan,” ujarnya.

Tetapi, ternyata tak semua pedagang Pasar Turi sependapat dengan Muin. Beberapa kelompok pedagang menolak berjualan di TPS Pasar Turi karena kondisinya dipandang belum memadai. Mereka mengganggap konstruksi TPS kurang aman untuk ditempati. (lee)

Surabaya Terancam Krisis Air

Ratusan industri di sepanjang sungai Surabaya masih membuang limbahnya ke sungai tanpa melalui pengelolaan yang layak. Hal itu membuat tingkat pencemaran air sungai di Surabaya begitu tinggi. Padahal, dari sungai itulah bahan baku air minum Surabaya diambil. Ujung-ujungnya kualitas air yang diproduksi PDAM Surabaya di bawah standar.

Humas PDAM Surabaya Soenarno kepada reporter radio JJFM mengakui bahwa air baku PDAM termasuk golongan C dan D. Pada tingkat ini kualitas air sangat buruk sehingga dapat menyebabkan kematian ikan. Dapat dibayangkan akibatnya kalau air dengan kondisi seperti itu dikonsumsi manusia.

“Sampai saat ini PDAM masih menggunakan sungai Surabaya sebagai sumber air baku karena belum ada alternatif air baku lain. Jadi, meskipun tingkat pencemarannya sangat tinggi, terpaksa tetap digunakan,” tandas Soenarno. Apabila air yang tercemar limbah industri tidak segera diatasi, lanjutnya, Surabaya terancam krisis air. (lee)

Program Kluster untuk Industri Nasional

Pengembangan industri nasional terkendala tiga faktor utama: rendahnya kualitas, masalah efisiensi, dan kontinuitas produksi. Solusinya, program pengembangan kluster (cluster) industri di daerah harus meningkatkan mutu secara bersamaan dan berorientasi ke pasar ekspor. Pendapat ini dikemukakan Menteri Perindustrian Fahmi Idris beberapa waktu lalu di Surabaya.

“Perbaikan mutu dan orientasi industri penunjang menuju pasar ekspor harus diprioritaskan. Pengadaan bahan baku mutlak pula ditingkatkan. Langkah-langkah itu diharapkan bisa menciptakan industri yang mampu bersaing dengan produk-produk asing,” tuturnya.

Pada kesempatan berbeda, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jatim Cipto Budiono mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengajukan sepuluh kluster industri yang akan dikembangkan kepada pemerintah pusat. Empat di antaranya mendesak untuk dikembangkan, yaitu industri berbasis tebu, perkapalan, perhiasan, serta kulit dan alas kaki.

“Tak tertutup kemungkinan kami akan mengembangkan kluster lain seperti jagung dan beras sebagai komoditas pertanian,” tegas Cipto. (lee)

Tetap Laris meski Harga Tinggi

Meskipun harga barunya masih relatif tinggi, handheld BlackBerry tetap laris manis di pasaran. Tipe-tipe baru berharga jual lebih dari Rp 5 juta seperti 8300, 8310, dan 8320 selalu diburu pecinta gadget.

Joegianto, pemasok BlackBerry untuk kawasan Indonesia Timur, mengakui bahwa BlackBerry mempunyai segmen pasar tersendiri. Di segmen tersebut faktor harga tidak berpengaruh signifikan terhadap penjualan.

“Bukan hanya gaya hidup. Bagi kalangan tertentu BlackBerry sudah menjadi kebutuhan. Sebab, BlackBerry dengan fitur-fitur tertentu yang dapat menunjang pelaku bisnis,” ujarnya. (lee)