Rawan Macet, Debitur Wajib Beri Jaminan

ukm.jpg      ukm2.jpg    ukm1.jpg

Karena 79 persen kredit tanpa jaminan yang telah dikucurkan macet, Asosiasi Pengusaha Industri Kecil dan Menengah (APIKIM) Jatim mewajibkan para debitur memberi jaminan. Hal itu terutama berlaku untuk pinjaman lebih dari Rp 5 juta rupiah.

“Langkah ini merupakan tindakan berjaga-jaga kalau sampai terjadi wanprestasi,” ungkap Ketua APIKIM H.R. Tonny Suryadi Wijaya SH MH dalam talkshow Regionomics  Live: Rahasia Sukses Ber-UKM, Sabtu (1/9).

Senada dengan Tony, Direktur Pemasaran Bank Jatim Samsul Arifin MBA MPA MHum MSi  yang juga menjadi pembicara menegaskan, calon debitur yang mengajukan permohonan kredit usaha wajib memberikan jaminan. “Nilainya tidak harus 100 persen dari aturan yang ditetapkan. Yang penting harus ada usaha yang dijalankan,” tegasnya.

Sebagai salah satu BUMN di Jatim, lanjut Samsul, Bank Jatim wajib turut memajukan perekonomian daerah dengan cara menyalurkan dana untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Selain mempunyai usaha dan jaminan, calon debitur Bank Jatim harus memenuhi dua syarat dasar lain. Yaitu, adanya prospek usaha dan kinerja (track record). Sementara APIKIM mensyaratkan calon debitur sudah menjadi nasabah selama minimal setahun.

“Kami tidak meminta imbalan apapun karena tujuan kami murni sosial kemasyarakatan. Ada juga pelatihan-pelatihan gratis untuk meningkatkan kualitas para pengusaha UKM,”  kata Tonny yang disambut tepuk tangan peserta.

Menanggapi keluhan salah seorang peserta bahwa kredit yang dikucurkan bank tidak sesuai keinginan, Samsul menerangkan bahwa bank mempunyai penilaian tentang kebutuhan pengusaha. Kalau kredit yang diajukan Rp 100 juta, sementara dana yang dikucurkan bank Rp 50 juta, berarti jumlah itulah yang oleh bank dinilai layak dan sesuai kebutuhan. Sedangkan Rp 100 juta yang diajukan itu merupakan keinginan debitur. “Jadi, kita harus bedakan antara keinginan dan kebutuhan,” tegasnya.

            Pembicara lain, Ketua Asosiasi Perajin Jawa Timur Liliek Noer SH, berbagi pengalaman ketika ia merintis usaha. Ketika itu, selain menerima kredit UKM Rp 25 juta dari salah satu bank, ia diberangkatkan mengikuti pameran UKM di Perancis dengan nilai sekitar Rp 25 juta pula.

Ia berharap bank lebih fleksibel dalam memberikan pinjaman lunak. Misalnya, dengan menjaminkan sepeda motor senilai Rp 10 juta, pengusaha UKM dapat menerima kredit Rp 25 juta. Kondisi seperti itulah yang sekarang tidak mungkin terjadi.

            Sementara itu, bagi para pengusaha supermikro yang modal usahanya Rp 500 ribuan saja, Yeyen dari Mandiri Media Communication memberikan alternatif pinjaman modal dari bank thithil atau individu yang memberikan pinjaman dalam jumlah terbatas kepada pengusaha kecil.

Kendati dipandang miring oleh sebagian pihak, menurut Yeyen, bank thithil sangat membantu pengusaha lemah. Yeyen pun mengaku pernah mendapatkan pinjaman dari bank thithil. Kelemahannya, bank thithil tidak mempunyai pembukuan yang rapi karena dijalankan oleh perorangan. (lee)

Advertisements

Bosan Gaji Standar, Terjuni UKM

Minimnya kesempatan kerja dan tingginya biaya hidup membuat banyak orang memilih untuk membuka usaha sendiri daripada menjadi karyawan sebuah perusahaan. Inilah yang dirasakan sebagian besar dari 150 peserta Talkshow Interaktif Regional Economics Live bertema ‘Susah Dapat Modal Usaha, Nggak Juga’ di Hotel Santika Surabaya, Sabtu (1/9). 

“Selama bertahun-tahun saya bekerja di perusahaan, tapi gajinya selalu standar. Itu sebabnya, sejak 2 bulan lalu saya putuskan keluar dan coba usaha sendiri,” kata Tatag Wanto Prayitno, salah seorang peserta talkshow interaktif kepada reporter JJFM.

Bidang usaha yang ditekuni juga tidak jauh dari pengalaman kerja dan kemampuannya, yaitu di bidang advertising. Menurutnya, dengan usaha sendiri, maka peluang untuk mendapatkan penghasilan yang tidak terbatas akan terbuka lebar. Seperti halnya pelaku usaha yang lain, kendala awal yang dihadapi yaitu bagaimana mendapatkan modal usaha. “Sejauh ini, modal sepenuhnya berasal dari simpanan pribadi dan patungan dengan dua teman kantor yang dulu,” tambahnya. Itu sebabnya, Tatag berharap, melalui talkshow interaktif tersebut, dia dapat menambah relasi dan informasi mendapatkan modal tambahan untuk  mengembangkan usahanya. 

Diakui bahwa memiliki pengalaman dan pendidikan yang menunjang, ternyata tidak akan berarti tanpa dukungan modal yang kuat. Sayangnya, kesempatan Tatag untuk mendapatkan modal tambahan harus ditunda, sebab salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh pelaku UKM adalah bahwa usaha yang ditekuni harus sudah berjalan minimal 1 tahun. Padahal, usahanya baru berjalan 2 bulan. “Mau bagaimana lagi. Ya harus sabar menunggu,” imbuhnya. (lee)