Secret to be Rich

tung-desem-waringin.jpg

Rahasia Menjadi Kaya ala Tung Desem Waringin

Setiap orang pasti ingin hidup berkecukupan atau bahkan bergelimang harta. Bahkan ada juga yang rela melakukan segala cara untuk menjadi kaya. Namun, yang menjadi permasalahan adalah, setiap orang mendefinisikan kaya dengan versinya masing-masing. Ada orang yang merasa kaya saat memiliki uang Rp 10 juta, tapi ada juga orang yang merasa kaya kalau sudah memiliki uang Rp 10 miliar. 

“Menurut Robert T. Kiyosaki, kaya adalah bukan dilihat dari berapa besarnya aktif income, melainkan pasif income yang lebih besar dari biaya hidup,” tegas Tung Desem Waringin saat mengisi Insert : The Secret to be Rich di radio JJFM Surabaya. Pasif income yang dimaksud adalah besarnya uang yang masuk tanpa harus bekerja. Jadi, menurut Tung, kekayaan sama dengan kemampuan seseorang untuk bertahan hidup dengan gaya hidup yang ada, tanpa harus bekerja. 

Tung lantas mencontohkan nasib Mike Tyson. Pada masa jayanya, petinju kelas dunia ini memiliki kekayaan hingga US$ 312 juta. Tapi sekarang, di usianya yang ke-40 dan tidak lagi ada pertandingan, dia justru dinyatakan bangkrut dan berhutang US$ 35 juta. Artinya, Mike bukanlah orang kaya. 

‘Bila besok Anda berhenti bekerja, berapa lama Anda dapat bertahan hidup dengan gaya hidup Anda sekarang tanpa harus menjual asset Anda’. Kalimat itulah yang selalu dikatakan pria yang pernah dinobatkan sebagai The Most Powerful & Ideas in Business 2005 versi Majalah SWA itu dalam memotivasi seseorang. Semua itu sebenarnya dapat terwujud jika pasif income kita lebih besar dari biaya hidup. Pasif income dapat diperoleh melalui royalty dari hak cipta, rumah yang disewakan atau kos-kosan, saham yang menghasilkan deviden seperti reksadana maupun bunga deposito. 

Hal-hal yang harus diperhatikan untuk menjadi kaya.
Pertama, bedakan definisi asset dan kewajiban. Orang kaya memiliki definisi asset dan kewajiban yang berbeda dengan definisi asset dan kewajiban akuntansi pada umumnya. Menurut Robert T. Kiyosaki, asset adalah apapun yang menghasilkan uang dan masuk ke kantong kita, sedangkan kewajiban adalah apapun yang keluar dari kantong kita. Menurut teori Akuntansi, asset adalah sesuatu yang dimiliki dan dapat menghasilkan nilai, sedangkan kewajiban adalah hutang masa kini akibat kejadian di masa lalu.

“Perlu diketahui bahwa rumah belum tentu asset. Ketika kita membayar angsuran rumah, berarti ada uang yang keluar dari kantong kita. Ini namanya kewajiban. Lain halnya kalau rumah itu kemudian disewakan atau dijual, berarti ada uang yang masuk ke kantong. Ini yang namanya asset,” jelas Tung. Untuk menjadi kaya, maka kita dituntut untuk memperkecil kewajiban dan memperbesar asset agar nantinya uang dapat bekerja untuk kita. Artinya, dalam membeli suatu produk, sebaiknya pilih yang produktif, seperti rumah, tanah, deposito, reksadana. 

Kedua, orang selalu berpikir bagaiamana caranya agar uang bekerja untuk mereka, sedangkan orang miskin dan orang menengah biasanya berpikir bagaimana caranya bekerja untuk mendapatkan uang.  

Seringkali kita melihat orang yang setelah lulus kuliah lalu bekerja dan menikah, dan membeli rumah dengan cara mengangsur. Saat anak lahir, mulai terpikir untuk membeli mobil secara angsuran. Seiring dengan pertumbuhan anak, ada keinginan untuk membeli rumah yang lebih besar dengan mengangsur. Terus dan terus hingga akhirnya saat meninggal, dia meninggalkan hutang. “Itu artinya, orang tersebut seumur hidup menjadi budak uang,” tutur pemegang rekor MURI penulis buku Financial Revolution dengan penjualan lebih dari 10.000 eksemplar pada hari pertama penerbitan itu.

Lain halnya dengan orang kaya. Sebelum lulus kuliah, mereka biasanya bekerja untuk mendapatkan pengetahuan, relasi, dan uang. Mereka menunda kesenangan, mengumpulkan uang, memperbanyak relasi. Ilmunya kemudian digunakan untuk mengelola uang dan relasi yang dimiliki, misalnya menginvestasikan uangnya dalam bentuk rumah untuk di-koskan atau disewakan, usaha sarang burung wallet, reksadana, saham yang menghasilkan deviden, maupun royalti. Dengan begitu mereka mendapatkan pasif income lebih besar dari gaya hidupnya. Setelah semuanya terpenuhi, barulah mereka membeli barang-barang mewah secara tunai. “Jadi, meski mereka berhenti bekerja, maka mereka masih dapat bertahan tanpa mengubah gaya hidup,” tambahnya. 

Ketiga, orang miskin biasanya membeli pengeluaran, orang menengah membeli kewajiban tanpa memikirkan asset, sedangkan orang kaya membeli asset.

Orang miskin biasanya tidak peduli berapapun penghasilannya, karena langsung dibelanjakan untuk pengeluaran, seperti makan, beli baju, piknik. Orang menengah, ketika memiliki penghasilan maka sebagian digunakan untuk pengeluaran, dan sebagian untuk kewajiban, seperti membayar cicilan rumah, cicilan mobil, dan cicilan lainnya. Meski mereka sudah memiliki rumah, mereka masih terobsesi untuk memiliki rumah yang lebih besar.  Lain halnya dengan orang kaya, ketika mendapat penghasilan maka sebagian kecil digunakan untuk pengeluaran dan sebagian besar untuk membeli asset.

“Inilah yang membuat orang kaya semakin kaya, orang menengah tidak kaya-kaya, sedangkan orang miskin tetap miskin,” kata Tung. 

Keempat, bekerja untuk belajar, bukan bekerja untuk uang. Selama ini banyak orang yang setelah lulus kuliah lalu berlomba mencari pekerjaan, bukannya meneruskan sekolah lagi. Setelah terjebak dengan rutinitas pekerjaan, maka sebagian besar waktu dihabiskan untuk mencari uang, dan ketika mendapatkan kenaikan gaji tidak diimbangi dengan peningkatan ketrampilan. Akibatnya, dia hanya memiliki ketrampilan di satu bidang saja. Lain halnya kalau kita bekerja sambil belajar, maka ketrampilan yang dimiliki juga berkembang. Menurut Robert T. Kiyosaki, ketrampilan utama menjadi kaya adalah ketrampilan untuk menjual. “Sederhana tapi cukup sulit, karena banyak orang yang takut ditolak. Semakin baik dalam berkomunikasi, bernegosiasi, dan menangani ketakutan akan penolakan, maka hidup ini akan makin mudah dijalani,” sarannya. (noe)  

One Response

  1. Wah.. sangat inspiratif..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: